Tugas Matakuliah Psikolinguistik.
Oleh : Nur Wijayanto (A 310 100 034)
Gambar diambil di Mading MI MUHAMMADIYAH Karanganyar. Gambar tersebut diambil pada hari Selasa, 30 April 2013. Dari gambar tersebut dapat dilakukan analisis sebagai berikut.
Gambar berupa tulisan dengan judul "Ismail". Ditulis oleh Valentino Febrian Addam, siswa kelas 5. Tulisan dalam gambar bercerita tentang kisah nabi Ibrahim dan Ismail yang ditulis dengan gaya penulisan puisi.
Dunia Bocah Kampoeng
My Blog
Tempat Anak Kampung Bermimpi dan Berkreasi
Minggu, 05 Mei 2013
Senin, 25 Februari 2013
Aman = Tidak aman & Tertib = Tidak tertib
Tidak memakai helm saat berkedara itu AMAN.
Menjadi TIDAK AMAN karena ada polisi
Tidak membawa STNK atau SIM saat berkendara itu TERTIB.
Menjadi TIDAK TERTIB karena ada polisi.
Jadi, polisi itu penyebab KEAMANAN dan KETERTIBAN ?
Ataukah penyebab KETIDAK AMANAN dan KETIDAK TERTIBAN ?
Kamis, 01 Maret 2012
FENOMENA
( sebuah perenungan )
( sebuah perenungan )
Kini hidup tak lagi berikan senyuman padanya. Bahkan kini hidup terkesan selalu menyudutkannya. Ia pun mulai mengeluh karena merasa kehidupan tak lagi semesra dahulu ketika usianya masih belia. Kala itu ia hampir tak pernah mengenal duka. Baginya usia belia itu adalah masa-masa yang paling indah dalam perjalanan hidupnya. Ia tak pernah merasa sangat berdosa. Ia tak pernah merasa permasalahan-permasalahan rumit menjepit dirinya. Kini semua telah berubah, semuanya menjadi berbeda. Saat senja tiba atau dikala fajar menampakkan dirinya, ia akan dijumpai termenung sendiri sambil berusaha mengingat-ingat moment ketika ia bersama kawan-kawannya berjalan sambil bercanda sepanjang penampang sawah yang menuju sekolahnya.
Masa memang tak pernah singgah menghentikan langkahnya, Ia akan selalu berjalan terkadang cepat dan terkadang pula lambat seiring persangkaan manusia. Perjalanan hidup manusia memang menyimpan tanya. Terkadang engkau tak tahu tiba-tiba engkau terperosok dalam lubang yang entah kapan engkau keluarnya. Tak jarang dalam perjalanannya, engkau menginjak duri yang sakitnya serasa mengiris hati. Memang terlalu munafik jika kita hanya menyalahkan takdir yang ada. Betapa tidak munafik coba..kita yang berprasangka, kita yang berbuat dan kita pula yang mengunduh enak atau tidak enaknya, namun takdir yang sering menjadi kambing hitamnya.
Kini dikala usianya menginjak kepala dua, Ia mulai sedikit demi sedikit mempelajari semua yang ada.Ia insyaf bahwa hidup tak hanya miliknya. Ada amanah-amanah dan rasa percaya yang orang lain sematkan pada dirinya. Meski terkadang Ia masih merasa diliputi banyak dosa, tapi sering pula ia akan bisa menepisnya jika ia menempatkan ketenangan pada hatinya. Jika sudah dalam posisi demikian Ia seolah bisa mengurai setiap jengkal makna yang hidup punya. Hanya saja tak ada yang bisa menebak kapan suasana hati berubahnya. Yan Qolibal Qulub senantiasa membolak balikkannya. Saat ini hanya rasa optimislah yang ia yakini. Suatu ketika kehidupan akan menempatkan dirinya pada tempatnya. Tempat mana yang akan menjadi tempat baginya tergantung bagaimana ia meraih kualitas dari diinya.
Selasa, 28 Februari 2012
Puisi ke dua
MAUKU
Hadiah ? bukanlah mauku
Rupiah ? itupun aku tak mau
Mauku adalah yang aku mau
Ku mau apa yang kini jadi mauku
Janjimu ? aku tak mau
Sumpahmu ? tak cukup penuhi mauku
Mauku adalah yang aku mau
Ku mau hadirmu di setiap rinduku
PUISI
DESA
Bersyukurlah
aku terlahir di sana
Dari
rahimnya rakyat jelata
Meringkuk
memeluk ibunda tercinta
Bersyukurlah aku terlahir di sana
Diantara semilir angin yang berdesir
Bermandikan aku aliran air yang mengalir
Bersyukurlah
aku tarlahir di sana
Tatkala
liukan bambu bersenandung merdu
Di
zaman jerami adalah atap yang menaungi
Dan
di masa ubi adalah makanan sehari-hari
Bersyukurlah aku terlahir di sana
Menjadi bagian peradaban lama
Langganan:
Komentar (Atom)
