My Blog

Tempat Anak Kampung Bermimpi dan Berkreasi

Kamis, 01 Maret 2012

     FENOMENA     
( sebuah perenungan )

              Kini hidup tak lagi berikan senyuman padanya. Bahkan kini hidup terkesan selalu menyudutkannya. Ia pun mulai mengeluh karena merasa kehidupan tak lagi semesra dahulu ketika usianya masih belia. Kala itu ia hampir tak pernah mengenal duka. Baginya usia belia itu adalah masa-masa yang paling indah dalam perjalanan hidupnya. Ia tak pernah merasa sangat berdosa. Ia tak pernah merasa permasalahan-permasalahan rumit menjepit dirinya. Kini semua telah berubah, semuanya menjadi berbeda. Saat senja tiba atau dikala fajar menampakkan dirinya, ia akan dijumpai termenung sendiri sambil berusaha mengingat-ingat moment ketika ia bersama kawan-kawannya berjalan sambil bercanda sepanjang penampang sawah yang menuju sekolahnya. 
              Masa memang tak pernah singgah menghentikan langkahnya, Ia akan selalu berjalan terkadang cepat dan terkadang pula lambat seiring persangkaan manusia. Perjalanan hidup manusia memang menyimpan  tanya. Terkadang engkau tak tahu tiba-tiba engkau terperosok dalam lubang yang entah kapan engkau keluarnya. Tak jarang dalam perjalanannya, engkau menginjak duri yang sakitnya serasa mengiris hati. Memang terlalu munafik jika kita hanya menyalahkan takdir yang ada. Betapa tidak munafik coba..kita yang berprasangka, kita yang berbuat dan kita pula yang mengunduh enak atau tidak enaknya, namun takdir yang sering menjadi kambing hitamnya.
                Kini dikala usianya menginjak kepala dua, Ia mulai sedikit demi sedikit mempelajari semua yang ada.Ia insyaf bahwa hidup tak hanya miliknya. Ada amanah-amanah dan rasa percaya yang orang lain sematkan pada dirinya. Meski terkadang Ia masih merasa diliputi banyak dosa, tapi sering pula ia akan bisa menepisnya jika ia menempatkan ketenangan pada hatinya. Jika sudah dalam posisi demikian Ia seolah bisa mengurai setiap jengkal makna yang hidup punya. Hanya saja tak ada yang bisa menebak kapan suasana hati berubahnya. Yan Qolibal Qulub senantiasa membolak balikkannya. Saat ini hanya rasa optimislah yang ia yakini. Suatu ketika kehidupan akan menempatkan dirinya pada tempatnya. Tempat mana yang akan menjadi tempat baginya tergantung bagaimana ia meraih kualitas dari diinya. 

Selasa, 28 Februari 2012

Puisi ke dua


MAUKU
Hadiah ? bukanlah mauku
Rupiah ? itupun aku tak mau
Mauku adalah yang aku mau
Ku mau apa yang kini jadi mauku

Janjimu ? aku tak mau
Sumpahmu ? tak cukup penuhi mauku
Mauku adalah yang aku mau
Ku mau hadirmu di setiap rinduku
                                            

PUISI


DESA

Bersyukurlah aku terlahir di sana
Dari rahimnya rakyat jelata
Meringkuk memeluk ibunda tercinta
            Bersyukurlah aku terlahir di sana
            Diantara semilir angin yang berdesir
           Bermandikan aku aliran air yang mengalir
Bersyukurlah aku tarlahir di sana
Tatkala liukan bambu bersenandung merdu
Di zaman jerami adalah atap yang menaungi
Dan di masa ubi adalah makanan sehari-hari
            Bersyukurlah aku terlahir di sana
            Menjadi bagian peradaban lama